Balada Kepalsuan

Tadi pagi aku ke pom bensin. Ngapain? Ya iyalah mo beli bensin, masak mau lomba nyanyi.

Belinya yang Pertamax, uda bosen pake BBM bersubsidi. Sekalian mau memberi teladan pada para pejabat.

“Mbak, Pertamax, full tank,” kataku penuh kebanggaan. O iya itu aku naek sepeda motor. Makanya mampu ngisi Pertamax.

Trus setelah si mbak bensin selesai menunaikan kewajibannya, aku bayar pake duit limapuluhribu-an, karena itu adalah nominal uang terkecil di dompetku.

Eh, tiba-tiba si mbak bensin bilang, “Mas, uangnya ada yang lain aja?” sambil mengembalikan uangku tadi.

Jadilah aku perhatiin uangku tadi.

Sialan! Baru nyadar ini uang aneh banget!

Lanjutkan membaca

Pada Suatu Sore

Sore itu sekitar jam 3-an aku sedang keliling kota naek sepeda motor. Itu hari biasa lho, bukan weekend.

Pasti kalian bertanya-tanya, ini orang kerja apa nggak. Iya itu aku lagi kerja kok. Sebagai orang kaya, kerjaanku emang cuma tinggal muter-muter kota, foya-foya, bagi-bagi sumbangan, semacam itu lah. Bosan sih, tapi mau bagaimana lagi, aku terlanjur kaya. Suatu hari nanti kalo kalian sudah kaya, pasti akan mengerti juga.

Oke lanjut.

Itu ceritanya di jalan Pemuda Semarang, di sekitar Balai Kota. Ada pak polisi beberapa gitu, lagi standby. “Kok ada polisi-polisi gini,” begitu kataku dari dalam helmku. Aku sudah bersiap menyerahkan diri, biar bisa ditangkap untuk kemudian kirim SMS “lagi di kantor polisi, tolong kirimin pulsa”. Tapi ternyata para polisi itu standby untuk alasan lain.

Ternyata ada mahasiswa lagi demo!

Lanjutkan membaca