Malam Bulan Purnama

1

malam ini adalah malam bulan purnama

sepasang pemudi dan pemuda di ruang tamu sedang bersama

pikiran entah kemana sementara pura-pura bercengkrama

tak ada skenario, tapi wajah mereka terus memainkan drama

sambil menunggu datangnya babak utama

2

ah, akhirnya pergi juga itu papa dan mama

coba dengarkanlah dengan seksama

suara mobilnya menjauh dan hilang di menit kelima

kata pemuda, “inilah kesempatan yang kita tunggu sejak lama”

“ayolah mumpung tak ada papa dan mama”

Lanjutkan membaca

Doa Seorang Penumpang

Itu hari Minggu, 23 Desember.

Aku akan pulang dari Jakarta ke Semarang via udara, naek pesawat Air Asia penerbangan pertama yang jam subuh itu. Biasalah, mana mau orang borju macam aku disuruh naek bis malem.

Setelah selesai ngurusin bagasi, bayar airport tax, dan ini itu, aku pun tinggal masuk ke ruang tunggu bandara sampe pesawatnya siap kunaiki.

Oh, baru nyadar masih belepotan tahi mata ini. Sialan. Kayak lagunya Stinky aja. Tetes tahi mataaa, basahi pipikuu..

Maka sambil bersih-bersih mata dan mikir mau dileletin di celana apa di jaket, aku mencari-cari tempat untuk duduk.

Tapi ruang tunggu bandara pagi itu bener-bener rame banget. Aku sampe nyaris gak bisa duduk. Syukurlah cuma gak bisa duduk. Kalo gak bisa berdiri kan ntar yang kasian istrinya juga (ini ngomongin apa coba??)

Anyway.

Lanjutkan membaca

Rejeki Pizza Hut

Kamis malam itu aku sedang pengen makan pizza. Maka kuajaklah pacarku makan malam di Pizza Hut. Dia sih oke-oke aja, kebetulan lagi bosen makan rumput juga.

Setelah selesai makan, kami berdua ngobrol dulu bagaikan ABG pacaran pada umumnya. Ngobrolin masa depan, mau punya anak berapa, mau cowok apa cewek, mau dikasih agama apa, mau disunat konvensional pake gunting ato futuristik pake laser, dan lain-lainnya. Pokoknya kami ini emang pasangan yang visioner.

Di tengah kemesraan ini yang janganlah cepat berlalu itu, tiba-tiba datanglah mas-mas berseragam Pizza Hut menghampiri kami. Oh, katanya dia tukang marketingnya Pizza Hut. Oh, katanya lagi nyari responden untuk mencicipi dan menilai menu baru yang akan di-launching. Oh, katanya nanti dapet hadiah.

Lanjutkan membaca

Karena Aku Sanguin Maka Kamu Harus Bilang WOW Gitu

Oke, oke..

Judul posting ini emang enggak banget kayak Rhoma Irama dicalonin jadi presiden. Tapi biarin lah. Toh judul ini juga yang membawamu kesini dan membacanya kan?

Anyway.

Pada beberapa kesempatan, aku mendengar temen berbicara mengenai kekurangannya dengan beralasan,

“Iya sih, soalnya aku kan orang tipe sanguin, jadi emang kurang bisa rapih kalo kerja…”

Atau semacamnya.

Hmm..

Lanjutkan membaca

Mas Gusman Season Jakarta

Pada 28 September 2012, akhirnya aku kembali ke Jakarta, sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh Koes Plus dalam lagunya. Bagi anak jaman sekarang yang gak paham Koes Plus itu apa, mereka adalah grup musik terkenal taun 70-an yang merupakan cikal bakal boyband Korea semacam SuJu-SuJu-an gitu deh. Dan sebagai penghormatan warga Korea pada Koes Plus, aliran musik pop Korea pun diberi nama sebagai K-Pop alias Koesplus-Pop. Bukan sembarangan! Ini serius! Bisa dicek! #alaBroadcastMessage

Oke. Cukup ngaconya. Back to topic.

Jujur nih ya, berat rasanya meninggalkan keluarga dan kampung halamanku di Semarang. Apalagi setelah sekian lama terbiasa dibuai semua kenyamanan itu: laper mau makan uda disiapin mami, pagi mau kerja motor uda disiapin papi. Bisa dibilang aku ini telah menjadi anak yang semi agak manja. Semi agak gendut juga.

Lanjutkan membaca

Pada Suatu Kafe

“Brownies Espresso sama Dark Mocha, grande, tanpa whipped cream, ya mas?” kata si mbak tukang kasir mengulang pesananku.

“Yak betul,” jawabku dengan penuh gaya, kan jarang-jarang minum kopi mahal gini.

“Atas nama siapa mas?”

“Yuwono mbak”

“Maaf?”

“Yuwono”

“Maaf mas?”

“Yuwono!”

“Yu..?”

“.. wono! YU-WO-NO!”

“… o oke, ditunggu sebentar ya mas..”

Lanjutkan membaca

Terima Kasih Telah Menunggu

“Mana blog-mu yang tulisan bulan Mei? Ditunggu :p”

Itu sebuah pesan dari temen di dinding Facebook.

.

“Udah ada update blog, bos?”

Belum.

.

Oh, yang itu dari temen yang lain via BBM. Emang dia suka panggil aku ‘bos’ gitu sih. Emang penampilanku ini bawaan majikan sih. Biarin sih.

.

Anyway.

Terima kasih ya.

Pesan-pesan semacam itu membuatku sadar, oh ternyata ada yang nungguin tulisan di blog-ku (semacam Lawang Sewu aja, ada yang nungguin gitu). Secara gak langsung aku pun jadi terpicu untuk lebih produktif menulis. Bukan, bukan jadi memaksakan diri untuk menulis. Tapi jadi lebih termotivasi. Lagian kalo posting blog sebulan sekali aja ga mampu, gimana mau jadi penulis buku? (Iya, emang suatu hari nanti aku akan menulis buku. Itu pasti! Buku apa aja. Buku tamu juga boleh)

Anyway.

Terima kasih telah menunggu 🙂

Pada Suatu Hujan

Rabu di malam hari, sekitar jam 9 malam, aku baru pulang dari Gramedia Semarang bersama sepeda motorku yang ngebut itu.

Pas nyampe di deket rumah tiba-tiba terbersit niat untuk makan eskrim, yang mahal sekalian. Ya udah bolehlah ya sekali-sekali menuruti nafsu, toh abis gajian. Maka akupun berbelok ke Alfamart deket rumah untuk beli Paddle Pop. Yang rasa stroberi apaaa gitu.

Baru ngantri di kasir sebentar, eh, tiba-tiba di luar ujan. Deres.

Orang-orang yang pada ngantri kasir di depanku itu pun pada mendesah, berkeluh kesah, “Aduh, piye iki,” seolah-olah mereka dapat musibah. Padahal ujan kan biar bikin bumi subur, harusnya disyukuri. Sukurin. Begitu kataku dalam hati.

Ternyata setelah disyukuri ujannya tambah deres. Aduh, piye iki 😦

Hmm, sebenernya sih jarak rumahku deket banget sama Alfamart-nya. Cuma beda dua rumah doang. Kalo mau diterjang pasti juga aku gak akan basah-basah amat. Tapi males lah, nanti nunggu agak reda aja. Lagian banyak juga yang neduh di depan Alfamart-nya. Jadi ga enak kalo nerjang sendirian, takut dibilang sok jagoan lah, sombong lah, gak setia kawan lah, apa lah…

Lanjutkan membaca

Opo Iki?!?!

6:50 PM. Di kantor.

Dan hujan masih saja turun. Dari jam 3 tadi. Dari langit.

Gawat ini. Padahal sedang perlu pergi ke ATM segera untuk setor uang. Segera! Hari ini adalah deadline-nya!

Deadline apa?

Beberapa hari yang lalu aku ditelepon orang bank. Dia marah-marah, padahal aku tidak.

“Mas, mohon kerjasamanya!”

Lanjutkan membaca