Indonesia, 22 Juli 2014 (dan seterusnya)

Setidaknya dalam seminggu terakhir ini, kalian – terutama yang di Jakarta – pasti sudah pernah denger kalimat-kalimat ini dari orang tua, sanak saudara, kerabat, maupun teman-teman kalian:

– “Buat jaga-jaga simpen beras, mi instan, air galon, dan bahan makanan-minuman lainnya”

– “Simpen duit cash buat jaga-jaga. Paspor selalu dikantongin juga”

– “Kalo bisa jangan kemana-mana. Jam 5 langsung pulang kantor, jangan kemaleman”

– “Tangki bensin dipenuhin selalu”

– “Cek tekanan angin ban!”

– “Jangan memaksakan diri menyetir jika mengantuk…”

Oke. Oke. Dua yang terakhir itu tips mudik aman sih.

Tapi sisanya pasti cukup familiar terkait situasi menjelang 22 Juli 2014 ini. Ya gak?

Kalo iya, maka pertama-tama berterimakasihlah pada papi-mami-oom-tante-kakak-adek-teman-atau-siapapun-itu yang memberitahu kalian. Artinya mereka peduli pada kalian. Yang kedua, yakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Iya. Semuanya akan baik-baik saja.

Tapi bagaimana meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja, padahal aku sendiri tidak yakin?

Mungkin begitu pertanyaanmu.

Iya. Aku pun juga begitu. Gak sampe yang takut sih. Tapi cukup was-was juga.

Kasian juga kita ya. Udah deg-degan di bawah tekanan menghadapi tanggal tua, masih ditambahin deg-degan efek pengumuman KPU.

Yah. Semoga tanggal 22 Juli ini bisa berlalu dengan damai, sehingga kita bisa segera kembali ke aktivitas masing-masing dengan tenang. Amin?

Amin.

Eh, tapi tunggu.

Iya kalo tanggal 22 Juli sudah final. Gimana kalo nanti kubu yang kalah mengajukan banding ke Mahkamah Konstitusi, trus mesti tunggu keputusan Mahkamah Konstitusi entah tanggal berapa lagi. Atau skenario lainnya yang mengharuskan kita menunggu tanggal tertentu lagi. Masak iya kita mesti melulu terkatung-katung dengan cemas begini? Kehidupan macam apa itu. Semacam jomblo nembak tapi gak dijawab-jawab aja. Huft.

Dari situ aku jadi berpikir. Mungkin justru kondisi itulah yang diinginkan oleh pihak-pihak tertentu. Bahwa kita diombang-ambingkan dalam ketidakpastian, bahkan dalam ketakutan. Entah tujuannya apa, tapi jelas tidak baik.

Karena itu aku memilih untuk tidak tunduk pada tujuan mereka. Aku memilih untuk tidak takut.

Iya. Itu pilihan kok. Pilihan yang sedikit dipaksakan, mengingat dalem hati masih agak was-was juga.

Tapi aku sudah memilih.

Aku memilih untuk percaya pada KPU, bahwa mereka akan bekerja keras menjaga suara rakyat dan tidak mengkhianati tanggung jawab mereka.

Aku memilih untuk percaya pada pemerintahan SBY, bahwa beliau akan bekerja keras mengawal proses peralihan ini dengan baik. Demi rakyatnya, demi bangsanya, demi reputasi baik yang selama ini sudah dibangunnya di dalam maupun luar negeri.

Aku memilih untuk percaya pada aparat penegak hukum, bahwa mereka akan bekerja keras menjaga keamanan negeri ini dan mengatasi oknum-oknum yang bermaksud membuat kekacauan.

Aku memilih untuk percaya pada bangsa kita, pada masyarakat kita, pada kita, pada Indonesia. Karena mungkin memang ada segelintir orang dengan kepentingan pribadinya masing-masing yang punya niat tidak baik untuk negeri ini. Tapi percayalah, jumlah mereka kalah jauh dibandingkan dengan jumlah orang-orang baik yang punya niat baik, punya tujuan baik, yaitu aku, kamu, dan orang-orang baik di sekitar kita. Dan kita siap menggagalkan segelintir orang itu.

Karena itu, aku memilih untuk beraktivitas seperti biasa. Tanpa rasa cemas. Tanpa rasa takut. Baik pada 22 Juli 2014, maupun seterusnya.

Merdeka!

keep calm Indonesia

Let’s have faith in ourselves, Indonesia 🙂

[Gambar] Pada Suatu Jembatan Penyeberangan

Itu adalah suatu siang yang iseng. Saat aku sedang berada di jembatan penyeberangan untuk pergi dari sebelah sini ke sebelah sana.

Dan tiba-tiba di ufuk Tomang, terlihatlah Ultraman.

ultromang

“SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA YA!” Itu pake huruf besar karena suaranya raksasa.

Dia pasti pengen diajakin berbuka bersama.

Oke lah man. Aku selesaikan dulu nyebrang jembatannya.

Ah. Diajakin bukber kemana coba segede gitu.

Anyway.

Selamat menunaikan ibadah puasa ya guys! Marilah kita jangan black campaign lagi. 🙂

Helm Basah dan Hal-hal Lainnya yang Ada di Kepalaku

Kemaren siang aku ada rapat, urusan bisnis di sekitar daerah Rasuna Said.

Karena rapatnya di dalam gedung, otomatis sepeda motor kebanggaanku si Belalang Tempur haruslah diparkir di luar, di tempat parkir itu. Iya, haruslah begitu. Lagian sepeda motor mana bisa masuk gedung dan lolos dari mesin metal detector di pintu masuknya sih. Pasti nanti bunyi alatnya. Kemudian “Eeeaaa… bawa apa eeaaa,” begitu nanti kata satpam yang jaganya.
Ya sudah, daripada menimbulkan hingar bingar yang tidak perlu biarlah ia di luar, di tempat parkir. Bagaikan pacar yang tidak diakui.

Dan kebetulan tempat parkirnya itu di outdoor.

Dan kebetulan kemaren siang di Jakarta hujan deras.

Dan kebetulan helmku yang aku kaitkan di jok motor itu dalam kondisi menghadap ke atas, ke langit. Itu karena aku tidak curiga sama sekali bahwa akan turun hujan. Asem.

Maka ia bagaikan tangan yang menengadah ke atas memohon berkat. Jadilah helmku itu tergenang air ketika aku pulang dari rapat sore kemarin. Byurrr. Segera kubuang airnya ke helm di motor sebelah. Bagi-bagi apes lah, supaya ia bisa segera menyalurkannya ke helm di sebelahnya juga.

Lanjutkan membaca

Kurang Pas

Akhir-akhir ini, aku lebih suka mengisi bensin sepeda motorku di Shell.

Tau Shell sodara-sodara?

https://i0.wp.com/photos.wikimapia.org/p/00/03/27/75/17_big.jpg

Yak itu dia pom bensinnya Shell.

Iya. Itu pom bensin kok. Jangan mentang-mentang ada logo kerangnya lalu kalian kira ini rumah makan seafood. Don’t judge a book by it’s cover ya guys.

Aku lebih suka di sini itu terutama karena cenderung gak serame SPBU Pertamina pada umumnya. Lebih sepi. Lebih syahdu. Cocok untuk mengasingkan diri dan mencari inspirasi untuk mengarang puisi. Mungkin karena dia gak jual BBM bersubsidi sama sekali. Ya malah enak, jarang pake antri jadinya. Tau sendiri kan aku orangnya sibuk dan memiliki mobilitas motoritas yang cukup tinggi. Sehingga waktuku jangan sampai terbuang untuk hal-hal yang kurang berguna.

Beberapa kali aku isi bensin di Shell yang di sini, kadang yang di sana, tergantung pas lagi lewatnya mana dan jodohnya sama siapa. Dari situ aku jadi bertanya-tanya. Sejauh pengamatanku, kok Shell ini gak ada yang Shell Pasti Pas ya. Atau mungkin karena pake bahasa Inggris jadinya Shell Must Be Fit. Tapi gak ada juga tuh.

Lanjutkan membaca

It’s Been A While

Iya.

Dua bulan lebih blog ini ga pernah diurusin dan dibiarin kosong melompong. Untung cuma blog. Coba kalo lahan tanah. Pasti sekarang uda ada gerobak ketoprak atau mie ayam nangkring di situ. Sama tukang es cappucino cincau. Sama preman satu yang jaga parkiran.

Ditambahin dua bulan lagi udah jadi foodcourt tuh.

Anyway.

Kalo mau dicari alasan kenapa lama gak nulis, sebenernya sih banyak. Sibuk lah, gak mood lah, gak ada inspirasi lah, dan lain-lain lah. Tapi ketahuilah hai kawan.  Orang sukses bukanlah orang yang mencari alasan atas kegagalan. Mereka adalah orang yang bekerja keras sehingga tidak ada alasan untuk gagal.

Silakan di-ciyee-in.

Ciyeeee….

(Eh beneran itu tadi kata-katanya ngarang sendiri lho. Udah pantes lah ya ngisi acara seminar-seminar gitu)

Maka dengan bermodalkan semangat itu, marilah sekarang aku mulai menulis lagi. Apalagi didukung dengan atmosfer minggu ini yang lagi santai-santainya akibat kombinasi tanggal merah di akhir Mei yang asoy itu. Jangan-jangan ini konspirasi Zionis-Yahudi-Illuminati kali ya, biar bangsa kita jadi malas-malasan. Atau bisa jadi karena ada orang yang nyogok tukang kalendernya, biar dikasih hari libur semacam ini.

Anyway.

Sebagai penutup ini aku kasih gambar. Lumayan bisa buat wallpaper komputer kalian.

godzillove

See you around.

 

Bahagia itu Sederhana (Syarat dan Ketentuan Berlaku)

Tadi sore hujan. Padahal itu jam-jam orang mau pulang kantor.

Aduh. Mungkin ini gara-gara aku protes kok kemarin-kemarin hujannya pagi-pagi jam berangkat kantor mulu. Jadilah sekarang di-reschedule. Ya tapi jangan jam pulang kantor juga kali..

Ya tapi gak apa-apa juga sih.

Toh kalo uda jam pulang kantor, ketampanan duniawiku tinggal 14% doang. Sudah kedip-kedip merah. Misal amit-amit basah kena guyur hujan atau kecipratan genangan air juga ya udahlah wong ya mau mandi.

Maka aku pun bergegas bersama Belalang Tempur, untuk menjemput si Gondrong dulu, untuk kemudian pulang ke kos.

Walah itu kok ya pake banjir di jalan Arjuna. Tau kan yang jalan di pinggir tol Jakarta-Merak itu? Kampret lah itu yang ngasih nama jalan. Kan Arjuna itu tokoh wayang yang dikisahkan tampan rupawan. Lha ini jalanan kalo pagi macet, kalo ujan banjir, kalo malem penerangan remang-remang. Pokoknya semrawut gak karuan. Masak iya dikasih nama Arjuna. Harusnya Jalan Rahwana. Ato bisa juga Jalan Sutan Bhatoegana. Nah cocok.

https://i2.wp.com/www.tokohtokoh.com/wp-content/uploads/2013/06/sutan-bhatoegana-415x300.jpg

Hahaha. Becanda Su. Jangan diambil ati.

Lanjutkan membaca

OTW

Ya halo.

Maaf agak lama tidak ngeblog lagi. Mudah-mudahan kalian lumayan kangen.

Ke-agak-lama-tidak-ngeblog-lagi-anku itu disebabkan oleh aku yang pindah kerja dari Kelapa Gading ke Kebon Jeruk per bulan Februari ini, yang otomatis harus diikuti dengan pindah kos ke daerah sekitar situ.

Nah aktivitas pindahan serta adaptasi di daerah serta kerjaan baru inilah yang cukup menyita waktu dan tenaga dan niat untuk menulis.

Satu hal yang aku harus adaptasi cukup banyak adalah mekanisme pemakaian mobil operasional kantor. Di kantor yang lama kebetulan aku dapet mobil dinas. Jadi boleh lah ya itu mobil dibawa pulang ke kos dan dipakai untuk kemana-kemini. Nah, di kantor yang baru ini sekarang belum dapet. Maka kembalilah aku bersekutu dengan sepeda motor kebanggaanku si Belalang Tempur.

Padahal kalian tau sendiri kan naik motor di Jakarta cobaannya seperti apa. Polusinya tuh parah banget, bikin upil jadi segede dan sehitam dosa. Ya emang sih Belalang Tempurku juga ikutan bikin polusi. Tapi menurutku pribadi, yang asapnya agak parah itu ya dari semacam metromini, kopaja, dan gerombolan kendaraan biadab sejenisnya. Asapnya gelap pekat dan mengepul kemana-mana bagaikan aib. Udah gitu sopirnya kan setoran-oriented sehingga nyetirnya jadi mempertaruhkan nyawa. Nyawa penumpang dan pengguna jalan lain maksudnya.

Ditambah lagi keneknya suka sombong. Kalian amati deh kalo lagi bergelantungan di pintu bus, di tangan kiri si kenek biasanya tergenggam segepok uang. Itu kan pamer penghasilan namanya. Ini kenek bus apa video klip hip-hop kok isinya pamer duit gitu.

Kenek VS Rapper: beda kurs-nya doang sih

Oya jangan lupakan bajaj yang oranye itu. Kecil-kecil gitu bau asapnya dahsyat, diiringi bunyi terong-tong-tong-tong-terong-tong-tong yang khas. Apes banget dah naek motor kalo kejebak lampu merah di belakang bajaj. Aku pun jadi paham perasaan nyamuk Aedes Aegypti pas kena fogging. Pantesan aja Mat Solar alih profesi dari tukang bajaj jadi tukang bubur. Lebih barokah.

Lanjutkan membaca

[Gambar] Daripada Hape

Itu adalah masa ketika istilah ‘meeting’ belum terlalu populer digunakan. Dan orang lebih sering menyebutnya dengan istilah ‘rapat’. Namun sekarang rapat lebih dikenal sebagai ramuan.

Ramuan sari rapat.

Anyway.

Aku lupa rapatnya lagi ngomongin apa, kan kejadiannya udah tahun 1976. Yang pasti kondisi sedang gawat karena Bapak sudah lapar dan makanan belum datang.

teknologi orba